Minggu, 04 November 2012

Khalifah Masa Kekhilafahan sejak Khulafaur Rasyidin Hingga Utsmaniyah

Masa khulafaur Rasyidin
1.Abu Bakar as-Siddiq ra (tahun 11-13 H / 632-634 M).
2.'Umar bin khattab ra (tahun 13-23 H / 634-644 M).
3.'Utsman bin 'Affan ra (tahun 23-35 H / 644-656 M).
4.Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H / 656-661 M).
5.Al-Hasan bin Ali ra (tahun 40 H / 661 M).

Masa Khilafah Islamiyah

Setelah mereka, khalifah berpindah ke tangan Bani Umayyah yang berlangsung lebih dari 89 tahun. Khalifah pertama adalah Mu'awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Masa kekuasaan mereka sebagai berikut:
1.Mu'awiyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H / 661-680 M).
2.Yazid bin Mu'awiyah (tahun 61-64 H / 680-683 M).
3.Mu'awiyah bin Yazid (tahun 64-68 H / 683-684 M).
4.Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H / 684-685 M).
5.'Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-68 H / 685-705 M).
6.Walid bin 'Abdul Malik (tahun 86-97 H / 705-715 M).
7.Sulaiman bin 'Abdul Malik (tahun 97-99 H / 715-717 M).
8.'Umar bin 'Abdul 'Aziz (tahun 99-102 H / 717-720 M).
9.Yazid bin 'Abdul Malik (tahun 102-106 H / 720-724 M).
10.Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H / 724-743 M).
11.Walid bin Yazid (tahun 126 H / 744 M).
12.Yazid bin Walid (tahun 127 H / 744 M).
13.Ibrahim bin Walid (tahun 127 H / 744 M).
14.Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H / 744-750 M).

Setelah Bani Umayyah, Kekhalifahan berpindah ke tangan Bani Abassiyah dan bani-bani yang lain. Mereka adalah sebagai berikut:

I. Dari Bani 'Abbas
1.Abul 'Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H / 750-754 M).
2.Abu Ja'far al-Mansyur (tahun 137-159 H / 754-775 M).
3.Al-Mahdi (tahun 159-169 H / 775-785 M).
4.Al-Hadi (tahun 169-170 H / 785-786 M).
5.Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H / 786-809 M).
6.Al-Amiin (tahun 194-198 H / 809-813 M).
7.Al-Ma'mun (tahun 198-217 H / 813-833 M).
8.Al-Mu'tashim Billah (tahun 218-228 H / 833-842 M).
9.Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H / 842-847 M).
10.Al-Mutawakil 'Ala al-Allah (tahun 232-247 H / 847-861 M).
11.Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H / 861-862 M).
12.Al-Musta'in Billah (tahun 248-252 H / 862-866 M).
13.Al-Mu'taz Billah (tahun 252-256 H / 866-869 M).
14.Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H / 869-870 M).
15.Al-Mu'tamad 'Ala al-Allah (tahun 257-279 H / 870-892 M).
16.Al-Mu'tadla Billah (tahun 279-290 H / 892-902 M).
17.Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H / 902-908 M).
18.Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H / 908-932 M).
19.Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H / 932-934 M).

II. Dari Bani Buwaih
1.Al-Radli Billah (tahun 323-329 H / 934-940 M).
2.Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H / 940-944 M).
3.Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H / 944-946 M).
4.Al-Muthi' Lillah (tahun 335-364 H / 946-974 M).
5.Al-Thai'i Lillah (tahun 364-381 H / 974-991 M).
6.Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H / 991-1031 M).
7.Al-Qa'im Bi Amrillah (tahun 423-468 H / 1031-1075 M).

III. Dari Bani Saljuk
1.Al Mu'tadi Biamrillah (tahun 468-487 H / 1075-1094 M).
2.Al Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H / 1094-1118 M).
3.Al Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H / 1118-1135 M).
4.Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H / 1135-1136 M).
5.Al Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H / 1136-1160).
6.Al Mustanjid Billah (tahun 555-566 H / 1160-1170 M).
7.Al Mustadhi'u Biamrillah (tahun 566-576 H / 1170-1180 M).
8.An Naashir Liddiinillah (tahun 576-622 H / 1180-1225 M).
9.Adh Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H / 1225-1226 M).
10.Al Mustanshir Billah (tahun 623-640 H / 1226-1242 M).
11.Al Mu'tashim Billah ( tahun 640-656 H / 1242-1258 M).

Setelah itu kaum muslimin hidup selama 3,5 tahun tanpa seorang khalifah pun. Ini terjadi karena serangan orang-orang Tartar ke negeri-negeri Islam dan pusat kekhalifahan di Baghdad. Namun demikian, kaum muslimin di Mesir, pada masa dinasti Mamaluk tidak tinggal diam, dan berusaha mengembalikan kembali kekhilafahan. kemudian mereka membai'at Al Muntashir dari Bani Abbas. Ia adalah putra Khalifah al-Abbas al-Dhahir Biamrillah dan saudara laki-laki khalifah Al Mustanshir Billah, paman dari khalifah Al Mu'tashim Billah. Pusat pemerintahan dipindahkan lagi ke Mesir. Khalifah yang diangkat dari mereka ada 18 orang yaitu :
1.Al Mustanshir billah II (tahun 660-661 H / 1261-1262 M).
2.Al Haakim Biamrillah I ( tahun 661-701 H / 1262-1302 M).
3.Al Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H / 1302-1334 M).
4.Al Watsiq Billah I (tahun 732-742 H / 1334-1354 M).
5.Al Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H / 1343-1354 M).
6.al Mu'tadlid Billah I (tahun 753-763 H / 1354-1364 M).
7.Al Mutawakkil 'Alallah I (tahun 763-785 H / 1363-1386 M).
8.Al Watsir Billah II (tahun 785-788 H / 1386-1389 M).
9.Al Mu'tashim (tahun 788-791 H / 1389-1392 M).
10.Al Mutawakkil 'Alallah II (tahun 791-808 H / 1392-1409 M).
11.Al Musta'in Billah (tahun 808-815 H / 1409-1416 M).
12.Al Mu'tadlid Billah II (tahun 815-845 H / 1416-1446 M).
13.Al Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H / 1446-1455 M).
14.Al Qa'im Biamrillah (tahun 754-859 H / 1455-1460 M).
15.Al Mustanjid Billah (tahun 859-884 H / 1460-1485 M).
16.Al Mutawakkil 'Alallah (tahun 884-893 H / 1485-1494 M).
17.Al Mutamasik Billah (tahun 893-914 H / 1494-1515 M).
18.Al Mutawakkil 'Alallah V (tahun 914-918 H / 1515-1517 M).

Ketika daulah Islamiyah Bani Saljuk berakhir di anatolia, Kemudian muncul kekuasaan yang berasal dari Bani Utsman dengan pemimpinnya "Utsman bin Arthagherl sebagai khalifah pertama Bani Utsman, dan berakhir pada masa khalifah Bayazid II (918 H/1500 M) yang diganti oleh putranya Sultan Salim I. Kemudian khalifah dinasti Abbasiyyah, yakni Al Mutawakkil "alallah diganti oleh Sultan Salim. Ia berhasil menyelamatkan kunci-kunci al-Haramain al-Syarifah. Dari dinasti Utsmaniyah ini telah berkuasa sebanyah 30 orang khalifah, yang berlangsung mulai dari abad keenam belas Masehi. Nama-nama mereka adalah sebagai berikut:
1.Salim I (tahun 918-926 H / 1517-1520 M).
2.Sulaiman al-Qanuni (tahun 916-974 H / 1520-1566 M).
3.Salim II (tahun 974-982 H / 1566-1574 M).
4.Murad III (tahun 982-1003 H / 1574-1595 M).
5.Muhammad III (tahun 1003-1012 H / 1595-1603 M).
6.Ahmad I (tahun 1012-1026 H / 1603-1617 M).
7.Musthafa I (tahun 1026-1027 H / 1617-1618 M).
8.'Utsman II (tahun 1027-1031 H / 1618-1622 M).
9.Musthafa I (tahun 1031-1032 H / 1622-1623 M).
10.Murad IV (tahun 1032-1049 H / 1623-1640 M).
11.Ibrahim I (tahun 1049-1058 H / 1640-1648 M).
12.Mohammad IV (1058-1099 H / 1648-1687 M).
13.Sulaiman II (tahun 1099-1102 H / 1687-1691M).
14.Ahmad II (tahun 1102-1106 H / 1691-1695 M).
15.Musthafa II (tahun 1106-1115 H / 1695-1703 M).
16.Ahmad II (tahun 1115-1143 H / 1703-1730 M).
17.Mahmud I (tahun 1143-1168 / 1730-1754 M).
18."Utsman IlI (tahun 1168-1171 H / 1754-1757 M).
19.Musthafa II (tahun 1171-1187H / 1757-1774 M).
20.'Abdul Hamid (tahun 1187-1203 H / 1774-1789 M).
21.Salim III (tahun 1203-1222 H / 1789-1807 M).
22.Musthafa IV (tahun 1222-1223 H / 1807-1808 M).
23.Mahmud II (tahun 1223-1255 H / 1808-1839 M).
24.'Abdul Majid I (tahun 1255-1277 H / 1839-1861 M).
25."Abdul 'Aziz I (tahun 1277-1293 H / 1861-1876 M).
26.Murad V (tahun 1293-1293 H / 1876-1876 M).
27.Abdul Hamid II (tahun 1293-1328 H / 1876-1909 M).
28.Muhammad Risyad V (tahun 1328-1339 H / 1909-1918 M).
29.Muhammad Wahiddin II (tahun 1338-1340 H / 1918-1922 M).
30.'Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H / 1922-1924 M).
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 30 Oktober 2012

Umar bin Khattab


Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab (581 - November 644) (bahasa Arab:عمر ابن الخطاب) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang juga adalah khalifah kedua Islam (634-644). Umar juga merupakan satu di antara empat orang Khalifah yang digolongkan sebagai Khalifah yang diberi petunjuk (Khulafaur Rasyidin).
Umar dilahirkan di kota Mekkah dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim. Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Muhammad yaitu Al-Faruk yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
Keluarga Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis, yang pada masa itu merupakan sesuatu yang langka. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah.
Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah, sebagaimana tradisi yang dijalankan oleh kaum jahiliyah Mekkah saat itu, Umar juga mengubur putrinya hidup-hidup sebagai bagian dari pelaksanaan adat Mekkah yang masih barbar. Setelah memeluk Islam di bawah Muhammad, Umar dikabarkan menyesali perbuatannya dan menyadari kebodohannya saat itu sebagaimana diriwayatkan dalam satu hadits "Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku".
Umar juga dikenal sebagai seorang peminum berat, beberapa catatan mengatakan bahwa pada masa pra-Islam, Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi seorang Muslim, ia tidak menyentuh alkohol sama sekali, meskipun belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas.

Memeluk Islam

Ketika Muhammad SAW menyebarkan Islam secara terbuka di Mekkah, Umar bereaksi sangat antipati terhadapnya, beberapa catatan mengatakan bahwa kaum Muslim saat itu mengakui bahwa Umar adalah lawan yang paling mereka perhitungkan, hal ini dikarenakan Umar yang memang sudah mempunyai reputasi yang sangat baik sebagai ahli strategi perang dan seorang prajurit yang sangat tangguh pada setiap peperangan yang ia lalui. Umar juga dicatat sebagai orang yang paling banyak dan paling sering menggunakan kekuatannya untuk menyiksa pengikut Muhammad SAW.
Pada puncak kebenciannya terhadap ajaran Muhammad SAW, Umar memutuskan untuk mencoba membunuh Muhammad SAW, namun saat dalam perjalanannya ia bertemu dengan salah seorang pengikut Muhammad SAW bernama Nu'aim bin Abdullah yang kemudian memberinya kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam, ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW yang ingin dibunuhnya saat itu. Karena berita itu, Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan dengan maksud untuk menghukum adiknya, diriwayatkan bahwa Umar menjumpai saudarinya itu sedang membaca Al Qur'an (surat Thoha ayat 1-8), ia semakin marah akan hal tersebut dan memukul saudarinya. Ketika melihat saudarinya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat, diriwayatkan Umar menjadi terguncang oleh apa yang ia baca tersebut, beberapa waktu setelah kejadian itu Umar menyatakan memeluk Islam, tentu saja hal yang selama ini selalu membelanyani membuat hampir seisi Mekkah terkejut karena seseorang yang terkenal paling keras menentang dan paling kejam dalam menyiksa para pengikut Muhammad SAW kemudian memeluk ajaran yang sangat dibencinya tersebut, akibatnya Umar dikucilkan dari pergaulan Mekkah dan ia menjadi kurang atau tidak dihormati lagi oleh para petinggi Quraisy yang selama ini diketahui selalu membelanya.

Kehidupan di Madinah

Pada tahun 622 M, Umar ikut bersama Muhammad dan pemeluk Islam lain berhijrah (migrasi) (ke Yatsrib (sekarang Madinah) . Ia juga terlibat pada perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria. Pada tahun 625, putrinya (Hafsah) menikah dengan Nabi Muhammad. Ia dianggap sebagai seorang yang paling disegani oleh kaum Muslim pada masa itu karena selain reputasinya yang memang terkenal sejak masa pra-Islam, juga karena ia dikenal sebagai orang terdepan yang selalu membela Muhammad dan ajaran Islam pada setiap kesempatan yang ada bahkan ia tanpa ragu menentang kawan-kawan lamanya yang dulu bersama mereka ia ikut menyiksa para pengikutnya Muhammad.

Kematian Muhammad

Pada saat kabar kematian Muhammad pada 8 Juni 632 M (12 Rabiul Awal, 10 Hijriah) di Madinah sampai kepada umat Muslim secara keseluruhan, Umar dikabarkan sebagai salah seorang yang paling terguncang atas peristiwa itu, ia menghambat siapapun memandikan atau menyiapkan jasadnya untuk pemakaman. Akibat syok yang ia terima, Umar berkeras bahwa Muhammad tidaklah wafat melainkan hanya sedang tidak sadarkan diri, dan akan kembali sewaktu-waktu. [1]
Abu Bakar yang mendengar kabar bergegas kembali dari Madinah, Ia menjumpai Umar sedang menahan Muslim yang lain dan lantas mengatakan (|cquote! :"Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal dunia. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati."! |)
Abu Bakar mengingatkan kepada para pemeluk Islam yang sedang terguncang, termasuk Umar saat itu, bahwa Muhammad, seperti halnya mereka, adalah seorang manusia biasa, Abu Bakar kemudian membacakan ayat dari Al Qur'an [2] dan mencoba untuk mengingatkan mereka kembali kepada ajaran yang diajarkan Muhammad yaitu kefanaan makhluk yang diciptakan. Setelah peristiwa itu Umar menyerah dan membiarkan persiapan penguburan dilaksanakan. ya Allah

Masa kekhalifahan Abu Bakar

Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasehat kepalanya. Setelah meninggalnya Abu Bakar pada tahun 634, Umar ditunjuk untuk menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam.

Menjadi khalifah

Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar.
Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (th 636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.
Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk salat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia salat.
Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam.
Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.
Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.

Kematian

Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz), seorang budak yang fanatik pada saat ia akan memimpin salat Subuh. Fairuz adalah orang Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara adidaya, oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah kematiannya jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan.
Semasa Umar masih hidup Umar meninggalkan wasiat yaitu[rujukan?]:
  1. Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
  2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
  3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
  4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
  5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
  6. Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

Catatan kaki

  1. ^ (Hayatu Muhammad, M Husain Haikal)
  2. ^ "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (surat Ali 'Imran ayat 144)



Film Omar - MBC tv series - MNC TV

Masih ingat film ini yang pernah ditayangkan MNC TV selama bulan Ramadhan 1433 H beberapa waktu lalu? Diluar pro-kontra nya film yang mem-visualisasikan sahabat nabi ini, menurut saya pribadi, film ini bermanfaat bagi orang-orang yang memang ingin mengetahui sejarah para sahabat. Dengan visualisasi ini, orang-orang akan lebih mudah memahami jalan cerita dan karakter para sahabat. Dan tentunya dengan harapan, para penontonnya akan menyikapinya secara bijak. Bahwa para pemeran di film tersebut bukanlah para sahabat yang diceritakan. Jadi, jika sewaktu-waktu bertemu atau melihat mereka, jangan sampai menyamakannya dengan para sahabat. :)

Dan bagi yang menginginkan koleksi film ini (30 episode), bisa dilihat di web resminya MBC, atau jika malas men-download, bisa pesan filmnya dengan menghubungi saya via sms - 085310628089. Tapi film tersebut hanya bisa diputar di Komputer PC, Laptop, dsb. bukan di CD atau DVD player.




»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 17 April 2012

Khalifah Umar dan Keadilan

Suatu ketika Umar bin Khattab sedang berkhotbah di masjid di kota Madinah tentang keadilan dalam pemerintahan Islam. Pada saat itu muncul seorang lelaki asing dalam masjid , sehingga Umar menghentikan khotbahnya sejenak, kemudian ia melanjutkan.
"Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas itu diberikan haknya untuk membalas pemimpin itu. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian menghina seseorang di hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan haknya untuk membalas hal yang setimpal."
Selesai khalifah berkhotbah, tiba-tiba lelaki asing tadi bangkit seraya berkata; "Ya Amiirul Mu'minin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan."
"Katakanlah apa tujuanmu bertemu denganku," ujar Umar.
"Saya telah dihina di hadapan orang banyak oleh 'Amr bin 'Ash, gubernur Mesir. Dan sekarang saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama."
"Ya saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?" tanya khalifah Umar ragu-ragu.
"Ya Amiirul Mu'minin, benar adanya."
"Baiklah, kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada 'Amr aku berikan dua orang pembela. Jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya 40 kali."
"Baik ya Amiirul Mu'minin. Akan saya laksanakan semua itu," jawab orang itu seraya berlalu. Ia langsung kembali ke Mesir untuk menemui gubernur Mesir 'Amr bin 'Ash.
Ketika sampai ia langsung mengutarakan maksud dan keperluannya.
"Ya 'Amr, sesungguhnya seorang pemimpin diangkat oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat. Dia diangkat bukan untuk golongannya, bukan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya, dan bukan pula untuk menindas yang lemah dan mengambil hak yang bukan miliknya. Khalifar Umar telah memberi izin kepada saya untuk memperoleh hak saya di muka umum."
"Apakah kamu akan menuntut gubernur?" tanya salah seorang yang hadir.
"Ya, demi kebenaran akan saya tuntut dia," jawab lelaki itu tegas.
"Tetapi, dia kan gubernur kita?"
"Seandainya yang menghina itu Amiirul Mu'minin, saya juga akan menuntutnya."
"Ya, saudara-saudaraku. Demi Allah, aku minta kepada kalian yang mendengar dan melihat kejadian itu agar berdiri."
Maka banyaklah yang berdiri.
"Apakah kamu akan memukul gubernur?" tanya mereka.
"Ya, demi Allah saya akan memukul dia sebanyak 40 kali."
"Tukar saja dengan uang sebagai pengganti pukulan itu."
"Tidak, walaupun seluruh masjid ini berisi perhiasan aku tidak akan melepaskan hak itu," jawabnya .
"Baiklah, mungkin engkau lebih suka demi kebaikan nama gubernur kita, di antara kami mau jadi penggantinya," bujuk mereka.
"Saya tidak suka pengganti."
"Kau memang keras kepala, tidak mendengar dan tidak suka usulan kami sedikit pun."
"Demi Allah, umat Islam tidak akan maju bila terus begini. Mereka membela pemimpinnya yang salah dengan gigih karena khawatir akan dihukum," ujarnya seraya meninggalkan tempat.
'Amr bin'Ash serta merta menyuruh anak buahnya untuk memanggil orang itu. Ia menyadari hukuman Allah di akhirat tetap akan menimpanya walaupun ia selamat di dunia.
"Ini rotan, ambillah! Laksanakanlah hakmu," kata gubernur 'Amr bin 'Ash sambil membungkukkan badannya siap menerima hukuman balasan.
"Apakah dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman ini?" tanya lelaki itu.
"Tidak, jalankan saja keinginanmu itu," jawab gubernur.
"Tidak, sekarang aku memaafkanmu," kata lelaki itu seraya memeluk gubernur Mesir itu sebagai tanda persaudaraan. Dan rotan pun ia lemparkan.
»»  Baca Selengkapnya...

Meninggalkan yang Haram Demi yang Halal

Al-Hasan al-Bashri Rahimahullah berkata, "Ada seorang wanita jalang yang kecantikannya melebihi wanita-wanita seusianya. Dia akan menyerahkan dirinya bila dibayar dengan 100 dinar (425 gram emas). Kemudian ada seorang pria yang melihatnya. Dia merasa kagum dan menginginkan si wanita tadi. Lalu si pria pergi dan bekerja keras membanting tulang dengan tangannya sendiri, sampai akhirnya dia berhasil mengumpulkan uang 100 dinar. Kemudian dia mendatangi si wanita dan berkata kepadanya, "Sungguh engkau telah membuatku kagum, kemudian aku pergi dan bekerja membanting tulang hingga berhasil mengumpulkan 100 dinar."
Si wanita berkata, "Bayarkanlah uang itu pada kepala pelayan agar dicek keaslian dan ditimbang beratnya." Setelah dibayarkan si wanita berkata lagi, "Masuklah." Si wanita itu mempunyai rumah yang dihias dengan indah dan ranjang dari emas. Ketika sudah masuk, "Ayolah," ajak si wanita. Si pria pun bersiap untuk melaksanakan hasratnya, namun saat itu pula dia ingat bagaimana nanti dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tubuhnya jadi gemetar dan syahwatnya langsung hilang. Maka dia batalkan niatnya dan berkata, "Biarkanlah aku keluar dan pergi dan uang 100 dinar itu ambil saja untukmu!"
Dengan penuh perasaan heran si wanita bertanya, "Ada apa denganmu? Kau telah mengaku pernah melihatku dan kagum padaku serta menginginkan diriku. Kemudian engkau pergi bekerja membanting tulang hingga mengumpulkan 100 dinar, dan setelah engkau bisa mendapatkan aku, kamu kok jadi begini?" Si Pria menjawab, "Tidak ada yang mendorongku dalam hal ini selain rasa takutku kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aku membayangkan bagaimana saat nanti aku akan berdiri di hadapan-Nya mempertanggungjawabkan perbuatanku." Si wanita berkata, "Bila engkau benar demikian, maka tidak ada yang berhak menjadi suamiku selain engkau." Tetapi si pria menanggapinya dengan berkata, "Biarkan aku pergi saja." Si wanita berkata, "Boleh, tetapi kau harus berjanji, bahwa nanti kau akan mengawiniku." Si pria berkata lagi, "Tidak ada janji sampai aku keluar." Si wanita tetap teguh memaksa, "Engkau harus berjanji, demi Allah, bila nanti aku datang kepadamu engkau harus mengawiniku." "Ya, mungkin," jawabnya singkat.
Lalu dia mengenakan pakaiannya kemudian terus pergi menuju negerinya. Dan si wanita pun berangkat meninggalkan dunia hitamnya dengan penuh penyesalan atas segala yang diperbuatnya. Sampai akhirnya ia tiba di negeri si pria itu. Lalu dia bertanya pada orang-orang di sana tentang nama dan alamat si pria itu. Orang-orang berkomentar, "Sekarang ini, sang ratu cantik itu datang sendiri bertanya tentang engkau."
Saat si pria melihatnya, dia terkejut, kemudian kejang lalu mati dan jatuh di hadapan wanita itu. Maka si wanita berkata, "Aku sudah tidak mungkin mendapatkan orang yang satu ini, tapi apakah ia punya seorang kerabat?" Orang-orang menjawab, "Ya, ada, dia punya saudara laki-laki yang miskin."
Si wanita tadi akhirnya berkata pada saudara laki-lakinya, "Aku ingin menikah denganmu, karena aku cinta pada saudaramu". Akhirnya keduanya menikah dan dikaruniai tujuh orang anak."
»»  Baca Selengkapnya...

Meraih Surga dengan Meninggalkan Dengki

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata, 'Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga'. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum Anshar yang datang dengan bekas air wudhu masih mengalir di jenggotnya, dan tangan kirinya memegang terompahnya."
"Keesokan hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan seperti perkataannya yang kemarin. Lalu muncullah laki-laki itu lagi, persis seperti kedatangannya pertama kali. Di hari ketiga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata demikian lagi, dan kembali yang datang adalah laki-laki itu lagi persis kejadian pertama. Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beranjak, Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash membuntuti laki-laki itu sampai ke rumahnya. Lalu Abdullah berkata kepadanya, 'Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Bila kau mengizinkan, aku ingin tinggal bersamamu selama tiga hari'. Dia menjawab, 'Ya, boleh'."
Anas berkata, "Abdullah menceritakan bahwa ia telah menginap di tempat laki-laki itu selama tiga hari. Dia melihat orang itu sama sekali tidak bangun malam (tahajjud). Hanya saja, setiap kali dia terjaga dan menggeliat di atas ranjangnya, dia selalu membaca zikir dan takbir sampai ia bangun untuk salat subuh. Selain itu--kata Abdullah--aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik."
"Setelah tiga malam berlalu dan hampir saja aku menyepelekan amalnya, aku terusik untuk bertanya, 'Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran dan tak saling menyapa antara aku dan ayahku, aku hanya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata tentang dirimu tiga kali, bahwa akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga, dan sebanyak tiga kali itu kaulah yang datang. Maka, aku pun ingin bersamamu agar aku bisa melihat apakah amalanmu itu dan nanti akan aku tiru. Tetapi, ternyata kau tidak terlalu banyak beramal. Apakah sebenarnya yang membuatmu bisa mencapai apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam'. Maka dia menjawab, 'Aku tidak mempunyai amal kecuali yang telah engkau lihat sendiri'.
"Ketika aku hendak pulang, dia memanggilku, lalu berkata, 'Benar amalku hanya yang kau lihat, hanya saja aku tidak mendapati pada diriku sifat curang terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Aku juga tidak iri pada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah Subhaanahu wa Ta'ala kepadanya'. Maka Abdullah bin 'Amr berkata, 'Inilah amal yang telah mengangkatmu pada derajat yang tinggi dan inilah yang berat kami lakukan'."

Sumber: Musnad Ahmad 3/166
»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 16 April 2012

Pencuri Bertakwa

Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syekh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syekh menasihati dia dan teman-temannya: "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang yang alim yang menadahkan tangannya kepada orang lain atau orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."
Maka pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya bertanya: "Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?" Sambil bergetar ibunya menjawab, "Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?" Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namun, akhirnya si ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel si ibu berkata, "Ayahmu dulu seorang pencuri."
Pemuda itu berkata, "Guruku memerintahkan kami--murid-muridnya--untuk bekerja seperti pekerjaan ayah kami masing-masing dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."
Ibunya menyela, "Hai! apakah dalam pekerjaan mencuri ada ketakwaan?" Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab dengan tenang, "Ya, begitu kata guruku."
Lalu dia pergi bertanya pada orang-orang dan belajar bagaimana seorang pencuri melakukan aksinya. Sekarang ia telah mengetahui teknik mencuri. Inilah saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian salat Isya' dan menunggu sampai orang-orang tidur. Kemudian dia mulai keluar rumah untuk menjalankan provesi ayahnya dengan penuh ketakwaan, seperti perintah gurunya. Dia mulai dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk ke dalam rumah itu dia ingat pesan gurunya agar selalu bertakwa. Akhirnya rumah tetangga itu ditinggalkannya. Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya, "Ini rumah anak yatim, dan Allah melarang kita makan harta anak yatim." Dia terus berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada penjaganya. Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. "Haa, di sini," gumamnya. Pemuda itu segera memulai aksinya. Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang telah dipersiapkannya. Setelah berhasil masuk, rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya. Dia berkeliling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta. Dia membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak, dan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya. Lalu dia berkata, "Eh, jangan! Guruku berpesan agar aku selalu bertakwa. Barangkali pedagang ini belum mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu."
Dia lalu mengambil buku-buk catatan yang ada di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya. Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang pandai berhitung dan punya pengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya. Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat menoleh, ternyata fajar telah menyingsing. Dia bicara sendiri, "Ingat takwa kepada Allah! Kau harus salat subuh dulu!" Kemudian dia keluar menuju ruang tengah, lalu berwudu di bak air untuk selanjutnya melaksanakan salat sunnah. Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat juga kotak hartanya dalam keadaan terbuka serta ada orang yang sedang melakukan salat. Istrinya bertanya, "Apa ini?" Dijawab oleh suaminya, "Demi Allah, aku juga tidak tahu." Lalu dia menghampiri si pencuri itu, "Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?" Si pencuri berkata, "Salat dulu baru bicara. Ayo pergilah wuduk lalu salat berjamaah. Tuan rumahlah yang berhak menjadi imam."
Karena khawatir pencuri itu membawa senjata, si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi--wallahu a'lam-- bagaimana dia bisa salat dengan khusyu'. Selesai salat dia bertanya, "Sekarang coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?" Dia menjawab, "Saya ini pencuri." "Lalu apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?" tanya tuan rumah lagi. Si pencuri menjawab, "Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak." Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu keheranan. Lalu ia berkata, "Hai, ada apa denganmu sebenarnya. Apa kau ini sudah gila?"
Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal sampai akhir. Setelah tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan serta kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, serta mengerti akan manfaat dan kewajiban zakat, dia pergi menemui istrinya. Mereka berdua mempunyai seorang anak gadis. Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, lalu berkata, "Bagaimana sekiranya kalau kau kunikahkan dengan putriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini." Ia menjawab, "Aku setuju." Di pagi harinya tuan rumah memanggil para saksi untuk acara akad nikah putrinya dengan si pemuda itu.
»»  Baca Selengkapnya...

Satu Dirham Membuahkan Seratus Dua Puluh Ribu Dirham

Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Seorang laki-laki bercerita kepadaku: 'Ada seorang laki-laki yang keluar rumah membawa benang tenun, lalu ia menjualnya seharga satu dirham yang rencananya untuk membeli tepung. Ketika pulang ia melewati dua orang lelaki yang saling menjambak rambut dan kepala kawannya. Ia lalu bertanya, 'Ada apa?' Orang-orang pun memberi tahunya bahwa keduanya bertengkar karena memperebutkan uang satu dirham. Maka ia berikan uang satu dirhamnya kepada mereka, dan ia pun tak memiliki uang lagi.
Ia lalu pulang dan menceritakan kejadian itu pada istrinya. Sang istri lalu mengumpulkan beberapa barang rumah tangga yang sekiranya bisa dijual atau digadaikan. Laki-laki itu pun pergi untuk menjual atau menggadaikannya. Tetapi, barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang membawa ikan yang agak menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, "Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah engkau mau menukarnya dengan barang daganganku ini?" Ia pun mengiyakan. Ikan itu pun dibawanya pulang.
"Istriku, segeralah urus ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar," katanya pada istrinya. Maka sang istri segera mengurus ikan tersebut. Ketika ia membelah perut ikan itu, tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut.
Wanita itu berkata gembira, "Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil dari telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara."
Suaminya berkata, "Perlihatkanlah padaku!" Ternyata ia melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya seumur hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata pada istrinya, "Saya kira ini adalah mutiara."
Sang istri menyahut, "Tahukah engkau berapa nilai mutiara ini?"
"Tidak, tetapi aku tahu siapa yang pintar dalah hal ini", jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu dan segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia lalu menghampiri temannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia berbicara kepadanya seraya mengeluarkan mutiara itu. "Tahukah anda berapa nilai benda ini?" ia bertanya. Kawannya memperhatikan mutiara itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, "Aku menghargainya 40 ribu dirham. Jika anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga. Tetapi jika anda ingin harga yang lebih tinggi, pergilah kepada si Fulan, dia akan memberimu harga yang lebih tinggi dariku."
Maka ia pergi kepada orang itu. Orang itu memperhatikan mutiara tersebut dan mengakui keindahannya. Ia kemudian berkata, "Aku menghargai barang ini 80 ribu dirham. Jika anda menginginkan harga yang lebih tinggi, pergilah kepada si Fulan, saya kira ia akan memberi harga yang lebih tinggi dariku."
Dengan bergegas ia pergi pada orang yang dimaksud. Orang itu berkata, "Aku hargai barang ini 120 ribu dirham. Dan saya kita tidak ada orang yang berani menambah sedikit pun dari harga itu." "Ya", ia pun setuju. Lalu mutiara itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, lelaki itu pulang dengan membawa dua belas kantong uang dirham. Pada masing-masing kantong terdapat sepuluh ribu dirham. Uang ia bawa pulang dan akan disimpan di rumahnya. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, "Saya punya kisah, karena itu masuklah." Orang itu pun masuk. Lalu laki-laki itu berkata, "Ambillah separuh dari hartaku ini." Orang fakir itu lalu mengambil enam kantong uang dan dibawannya pergi. Setelah agak jauh, ia kembali lagi seraya berkata, "Sebenarnya aku bukanlah orang fakir atau miskin, tetapi Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah mengutusku kepadamu untuk mengujimu. Dialah yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan ini yang diberikan-Nya kepadamu baru satu qirath dari semuanya. Dan Dia menyimpan sembilan belas qirath lagi untukmu.
»»  Baca Selengkapnya...

Ka'ab bin Malik dan Taubatnya

Ka'ab bin Malik ra bercerita tentang tertinggalnya dia dalam Perang Tabuk, "Belum pernah saya tertinggal dari Rasulullah saw dalam suatu peperangan melainkan dalam Perang Tabuk, saya memang tidak turut dalam Perang Badar, tetapi tidak disalahkan, karena Rasulullah saw keluar hanya untuk menghadang Khalifah Qurasy tiba-tiba Allah menghadapkan mereka kepada lawan yang tidak terduga sebelumnya. Saya telah menyaksikan bersama Rasulullah saw malam "Bai'atul Aqabah" ketika saya berbai'at atas Islam, dan saya tidak suka andaikan kejadian "Lailatul Aqabah" itu ditukar dengan Perang Badar meskipun Perang Badar itu lebih dikenal orang."
Adapun cerita mengenai kami tidak ikut Perang Tabuk ialah: "Saya memang belum pernah merasa kuat dan lebih longgar sebagaimana keadaan saya ketika tertinggal dalam Perang Tabuk, demi Allah, saya belum pernah menyiapkan dua kendaraan melainkan untuk peperangan, dan biasanya Rasulullah saw jika akan keluar pada peperangan dengan menyamarkan dengan tujuan yang lain, kecuali dalam perang ini, karena Rasulullah akan melakukannya dalam musim kemarau, dan akan menghadapi perjalanan yang jauh, di samping musuh yang dihadapi jauh lebih besar dan lebih kuat, maka beliau menjelaskan kepad kaum muslimin supaya bersiap siaga sungguh-sungguh dan memberitahukan kepada mereka arah tujuan yang sebenarnya.
Kaum muslimin saat itu cukup banyak tidak tercatat nama mereka dalam sebuah buku, sehingga kalau seorang tidak ikut dalam perang ini, mungkin ia mengira tidak akan diketahui oleh Rasulullah saw selama tidak ada wahyu turun dari Allah.
Rasulullah saw keluar ke medan Perang Tabuk bersamaan dengan musim berbuahnya pohon-pohon. Saya merasa lebih condong pada peperangan ini dan saya pun telah bersiap-siap. Namun, sesampai di rumah saya tidak berbuat apa-apa, saya berkata dalam hati, "Saya dapat mengerjakannya sewaktu-waktu." Saya berlarut-larut dalam keadaan demikian sehingga pagi-pagi Rasulullah dan kaum muslimin sudah bersiap-siap untuk berangkat, saya segera pulang untuk bersiap-siap, tetapi sampai di rumah saya tidak berbuat apa-apa. Maka berangkatlah Rasulullah dan kaum muslimin dan saya merasa masih dapat mengejar mereka, tetapi saya tidak ditakdirkan oleh Allah yang demikian itu. Lalu, sesudah itu bila saya keluar, saya merasa sedih karena tidak mendapat teman kecuali orang-orang munafik dan orang-orang yang telah dimanfaatkan oleh Allah, seperti orang tua dan orang-orang miskin yang tidak dapat ikut serta bersama Rasulullah dalam perang ini.
Rasulullah saw tidak menyebut-nyebut nama saya sehingga sampai di Tabuk, ketika itu beliau tengah duduk di tengah-tengah kaum muslimin, beliau bertanya, "Apakah kerja Ka'ab bin Malik?" Seorang dari Bani Salmah menjawab, "Ya Rasulullah, ia tertahan dengan mantelnya." Lalu Muadz bin Jabal berkata, "Ya Rasulullah, kami tidak mengenal daripadanya, melainkan kebaikan semata-mata." Rasulullah diam, tidak menyahut ketarangan itu, dan ketika itu pula nampak bayang-bayang orang, lalu beliau berkata, "Mudah-mudahan itu Abu Kaitsmah." Dan benar, bahwa itu adalah Abu Kaitsamah al-Anshari yang pernah diejek oleh orang munafik karena ia menderma satu sha' (2,5 kg) kurma.
Ketika sampai berita kepada saya bahwa Rasulullah akan kembali, saya sedih atas keteledoran saya, sehingga ingin mencari jalan untuk menghindari murka beliau dalam hal ini saya telah minta bantuan para sanak kerabat. Tetapi, ketika sampai kepada saya bahwa Rasulullah saw datang, tiba-tiba saya mengambil keputusan dan mengetahui benar-benar bahwa saya tidak akan bisa selamat dari beliau mengaku apa adanya.
Pada waktu pagi Rasulullah memasuki kota Madinah dan terus memasuki masjid sebagaimana biasanya jika beliau baru tiba dari bepergian jauh, dan menanti kedatangan orng yang mengajukan alasan mengapa tidak ikut serta dalam perang. Maka, datanglah orang-orang yang tidak ikut serta dalam Perang Tabuk kurang lebih 80 orang, masing-masing mengajukan alasan dan bersumpah. Maka, Rasulullah menerima alasan mereka yang lahir dan memintakan ampun kepada Allah, dapun soal batin, beliau serahkan kepada Allah, sehingga sampailah giliran saya, ketika saya memberikan salam, beliau tersenyum ramah kepada saya sambil berkata, "Mari sini!" Lalu saya duduk di depannya, maka beliau bertanya, "Mengapa kamu tidak ikut berangkat, bukankah kamu telah menyiapkan kendaraan untuk ikut perang?" Saya menjawab, "Demi Allah, ya Rasulullah, andaikan saya ini duduk di depan seseorang selain engkau, niscaya dapat mengemukakan alasan-alasan untuk menyelamatkan diri dari murka-Nya, karena saya termasuk orang yang pandai berdebat, tetapi demi Allah, saya yakin jika saya berdusta kepada engkau, mungkin engkau menerima serta ridha terhadap saya, tetapi Allah akan murka terhadap saya, dan jika aku berkata sebenranya, mungkin engkau menyesal kepadaku, tetapi saya berharap Allah mau mengampuni saya. Demi Allah, sebenarnya tidak ada alasan bagi saya dan belum pernah saya merasa sehat dan ringan sebagaiamana keadaan saya ketika tidak turut beserta engkau berangkat ke Tabuk", maka Rasulullah menjawab, "Kamu telah berkata sebenarnya, maka pergilah sampai Allah memberi keputusan perkaramu ini." Ketika saya bangun diikuti oleh beberapa orang dari Bani Salamah sambil berkata, "Demi Allah, kau belum melakukan dosa selain ini, mengapa kau tidak meminta maaf saja kepada Rasulullah? Cukup bagimu jika beliau memintakan ampun bagimu." Mereka menyalahkan perbuatan saya, hingga hampir saja saya akan kembali kepada Rasulullah untuk menarik kembali pengakuan saya semula. Lalu, saya bertanya keopada mereka, "Adakah orang yang menerima keputusan sebagaimana saya?" Mereka menjawab, "Ada, yaitu Murarah bin Rabi'ah al Amiry dan Hilal bin Umayyah al Waqifi", maka ketika mereka menyebut nama dua orang yang saleh yang telah ikut serta dalam Perang Badar, maka saya merasa tenang, sebab ada dua orang yang dijadikan teladan, dan akhirnya saya tidak jadi menarik pengakuan saya.
Kemudian Rasulullah melarang sahabat-sahabatnya berbicara kepada kami bertiga, maka orang-orang mulai berubah sikap dan menjauhi kami, sehingga suasana kota Madinah berubah bagi saya seolah-olah saya seperti orang asing selama 50 hari, kedua teman saya hanya tinggal di rumah saja sambil menangis, sedangkan kami yang lebih muda darinya dikatakan lebih kuat dari keduanya, maka saya tetap keluar dari rumah untuk menghadiri salat jamaah, pergi ke pasar namun tidak ada seorang pun yang mau berbicara dengan saya, dan saya juga mendatngi majlis Rasulullah saw memberi salam kepadanya sambil memperhatikan bibirnya kalau-kalau ia menggerakan bibirnya menjawab salam saya, lalu saya mendekat kepadanya sambil melirik kepadanya, dan apabila saya melirik kepadanya, beliau membuang muka dariku.
Saya mendatangi rumah Abu Qatadah, sepupu saya yang akrab, lalu saya mengucapkan salam, tetapi dia tidak menjawab. Lalu saya bertanya kepadanya, "Apakah kamu mengetahui bahwasannya saya tetap cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?" Ia pun tidak menjawab, hingga saya mengulanginya tiga kali dan ia pun tidak menjawab, ia hanya berkata, "Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui", maka bergulirlah air mataku mendengar itu, lalu saya terus kembali pulang.
Saya berjalan-jalan di pasar, tiba-tiba ada seorang petani dari negeri Syam yang biasa menjual makanan di pasar Madinah bertanya, "Siapakah yang suka menunjukkan saya kepada Ka'ab bin Malik?" Maka, semua orang yang ditnya menunjuk keada saya. Kemudian orang itu mendekati saya sambil membawa sepucuk surat dari Raja Hasan yang di dalamnya berisi, "Sebenarnya saya telah mendengar bahwa kamu telah diboikot oleh teman-temanmu, dan Allah tidak menjadikan kamu orang yang terhina, datanglah kepada kami, tentu akan kami terima." Maka, saya berkata, "Ini juga sebagai ujian", lalu saya pergi ke tempat api untuk membakar surat itu.
Setelah 40 hari dari kejadian itu, ada seorang utusan Rasulullah mendatangi saya dan memberitahu bahwa, "Rasulullah memerinthkan kamu untuk menjauhi istrimu." Saya bertanya, "Apakah saya harus dicerai?" Ia menjawab, "Tidak, kamu hanya dilarang untuk mendekatinya, dan begitu pula diutus untuk kedua teman saya yang senasib." Maka saya katakan kepada istri saya, "Saya harapkan kamu pulang kepada keluargamu sampai saya mendapat keputusan dari Allah mengenai urusanku ini." Istri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah memberi tahu bahwa Hilal adalah seorang tua yang tidak mempunyai pelayan, apa boleh kiranya saya melayaninya? Beliau menjawab, "Boleh melayani, asal tidak mendekati kamu." Ia berkata, "Demi Allah, ia tidak memunyai nafsu untuk mendekati, sebab sejak ia menerima keputusan itu ia menangis terus tak henti-hentinya."
Sebagian kerabatku mengusulkan supaya minta izin kepada Rasulullah untuk sitriku, sebagaimana Hilal bin Umayyah, saya menjawab, "Saya tidak akan minta izin kepada Rasulullah untuk istriku, sedang saya belum tahu apakah yang akan dijawab oleh beliau, setelah 10 hari dan genaplah 50 hari sejak Rasulullah melarang sahabt-sahabat untuk tidak berbicara kepada saya." Dan pada hari yang ke-50 itu, ketika saya sedang salat Subuh di ruangan bagian atas rumahku, ketika itu saya sedang duduk merenungkan nasib diri yang benar-benar seperti yang telah disebut Allah dlam Alquran, yaitu sempit hidup di atas dunia ini, tiba-tiba saya mendengar suara jeritan yang sangat keras: "Wahai Ka'ab bin Malik, sambutlah kabar baik", lalu saya sujud syukur sebab saya merasa psti Rasulullah telah mengatakan kepada sahabatnya bahwa Allah telah menerima taubat saya pagi ini.
Orang-orang datang mengucapkan selamat kepada saya, ada yang berlari, ada yang berkendaraan, dan ada pula yang menjeritkan suaranya. Ketika sampai kepadaku orang yang sampai terlebih dahulu, saya langsung melepas pakaian lalu saya hadiahkan kepadanya, padahal waktu itu saya hanya punya satu pakaian. Saya terpaksa meminjam pakaian untuk Rasulullah saw.
Kemudian saya berjalan ke tempat Rasulullah, sedang orang-orang sama menyebut saya dengan ucapan selamat atas diterimanya taubat saya oleh Allah, sehingga sampailah saya di masjid Rasulullah, di mana beliau duduk dan ditemani para sahabatnya, maka Thalhah bin Ubaidillah bangkit dari duduknya untuk menjabat tangan saya sambil mengucapkan selamat. Demi Allah yang tiada seorang pun dari sahabat Muhajirin yang bangun dari tempatnya selain Thalhah, hingga saya tidak dapat melalaikan kebaikannya itu.
Ketika saya memberi salam kepada Rasulullah tampak wajah beiau berseri-seri seraya berkata, "Sambutlah hari yang paling baik bagimu sejak kamu dilahirkan oleh ibumu." Saya bertanya, "Apakah keputusan itu dari engkau ya Rasulullah atau dari Allah?" Belia menjawab, "Dari Allah Azza wa Jalla." Sudah menjadi kebiasaan bagi Rasululah, apabila beliau bergembira wajahnya berseri-seri bagaikan sepotong rembulan.
Kemudian saya berkata, "Ya Rasulullah, untuk kesempurnaan taubatku, saya akan menyedekahkabn semua kekayaan untuk Allah dan Rasul-Nya", lalu beliau menjawab, "Tahanlah sebagian hartamu, sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagimu." Saya berkata, "Saya akan menahan yang saya dapat dari Perang Khaibar ya Rasulullah."
Sungguh Allah telah menyelamatkan saya, sebab pengakuan saya yang benar, sebab itu ya Rasulullah, saya berjanji tidak akan berbicara melainkan dengan benar sebagai kelanjutan dari taubat saya. Demi Allah, saya tidak pernah mengetahui dari seorang pun dari kaum muslimin telah mendapat ujian dari Allah karena kebenarannya sebagaimana saya. Demi Allah, saya tidak pernah sengaja berdusta sejak saya berjanji yang demikian itu pada Rasaulullah sampai hari ini, dan saya berharap semoga Allah terus memelihara saya sampai akhir hayat.

Sumber: 1001 Kisah-Kisah Nyata, Achmad Sunarto
»»  Baca Selengkapnya...

Tetangga yang Baik

Diriwayatkan dari Sahal bin Abdillah rahimahullah, bahwa dia mempunyai seorang tetangga yang merupakan orang dzimmiy (orang non-muslim yang tinggal di wilayah Islam, memiliki hak keamanan harta dan jiwa dengan membayar jizyah). Dan dari rumah orang dzimmiy itu ada kebocoran yang menimbulkan tetesan air ke rumah Sahal.
Setiap hari Sahal menampung air bocoran itu di dalam suatu wadah agar tidak menyebar di rumahnya. Jika telah penuh Sahal membuangnya pada malam hari agar tidak dilihat oleh orang. Keadaan itu terus berlangsung lama sampai ketika ajal sudah mendatangi Sahal.
Lalu tetangganya yang dzimiiy Majusi itu datang menjenguknya ketika ia sedang sakit menjelang meninggalnya. Sahal menyuruhnya masuk ke sebuah ruangan di rumahnya agar tetangganya itu melihat apa yang terjadi di dalamnya. Begitu Majusi itu masuk, ia langsung melihat adanya kebocoran dari rumahnya dan airnya menetes ke rumah Sahal. Ia paham, hal ini tentu saja mengganggu Sahal. Ia kemudian bertanya, "Apa sebenarnya yang kulihat ini?"
Sahal berkata, "Hal ini sudah berlangsung lama, air menetes dari rumahmu ke rumahku ini. Dan saya menampungnya di siang hari, kemudian membuangnya pada malam hari. Kalaulah bukan karena ajalku telah tiba, dan aku takut orang lain tidak sanggup menerima keadaan ini, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepadamu. Makanya aku melakukan hal telah kau lihat ini."
Orang Majusi itu berkata: "Wahai Syekh! Engkau telah memperlakukan aku dengan toleransi tinggi seperti ini, sedangkan saya tetap saja memegang kekufuranku. Tolong julurkanlah tangan anda, inilah saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah (Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah). Setelah itu Sahal kemudian meninggal.
»»  Baca Selengkapnya...

Pohon Korma Milik Tetangga

Ada seseorang yang memiliki sebuah pohon kurma yang tumbuh subur, daunnya lebat, dan mayangnya menjuntai sampai ke rumah tetangganya yang miskin, banyak anak lagi. Tetapi, mereka hanya bisa gigit jari melihatnya.
Setiap kali pohon korma itu berbuah, pemiliknya memetik lewat rumah tetangganya yang miskin itu. Bahkan, apabila ada buah korma yang jatuh dan dipungut oleh anak-anak si miskin itu, pemilik korma itu akan merampasnya kembali. Sampai-sampai buah korma yang sudah terlanjur di mulut pun dimintanya kembali.
"Ini kurmaku, kamu tidak berhak memakannya," katanya.
Melihat perlakuan si pemilik korma itu, tetangganya yang miskin itu mengadukan perihalnya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Pengaduan ini diterima oleh Nabi dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menemui pemilik kurma itu seraya berkata, "Berikanlah pohon kurmamu itu kepada tetanggamu yang miskin. Sebagai gantinya, kau akan memperoleh gantinya di surga nanti."
Pemilik kurma itu menjawab, "Cuma itu tawaranmu?" Karena sifat kikirnya, tawaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu ditolaknya. Dengan mencibirkan mulutnya, ia pergi meninggalkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kebetulan pembicaraan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan pemilik kurma yang kikir itu terdengar oleh seorang dermawan. Lelaki itu lalu bergegas menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Apakah tawaran itu berlaku juga bagiku?" tanya lelaki itu. "Ya," jawab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Mendengar hal itu, lelaki itu bergegas menemui pemilik pohon kurma itu. "Tahukah engkau bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan pohon kurma surga sebagai ganti pohon kormamu?
"Ya, aku tahu. Tetapi, aku lebih sayang pada pohon kurmaku ini," ujar lelaki kikir itu.
"Pohon kormamu itu buahnya sungguh lebat, dan tak satu pun pohon kurmaku seperti itu. Apakah engkau mau menjual pohon kurmamu itu?" tanya si dermawan.
"Bisa saja, asal anda dapat memenuhi permintaanku. Aku yakin tak seorang pun sanggup memenuhinya," jawabnya.
"Berapa yang kau inginkan?"
"Empat puluh pohon korma."
"Oho, engkau minta yang tak sebanding. Tapi biarlah, kupenuhi permintaanmu dengan empat puluh pohon korma. Kuminta engkau benar-benar menukarkan pohon korma itu kepadaku," kata laki-laki dermawan itu.
Setelah selesai tukar-menukar pohon kurma, lelaki dermawan itu datang menghadap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Wahai Rasulullah, pohon kurma itu telah menjadi milikku, kini aku menyerahkannya kepadamu," katanya.
Kemudian, Nabi bersama lelaki dermawan itu datang kepada keluarga miskin itu.
"Ambillah pohon kurma itu untukmu dan keluargamu," kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Saat itu turunlah wahyu dari Allah sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Lail ayat 5-11 yang menceritakan kedudukan orang dermawan dan orang kikir serta balasannya. Allah akan mengganti apa yang diberikan oleh seseorang, dengan barang yang serupa yang berlipat ganda di akhirat. Sayang lelaki kikir itu enggan menerimanya.
»»  Baca Selengkapnya...

Total Kunjungan

Followers

Donasi / Infaq

Donasi / Infaq
7044947581 a.n. Zulfikar Tamher